Sebuah Cerpen Untuk Diri Sendiri

Kadang rasanya ingin aku melubangi kepalamu dan duduk disana, menyimak pikiranmu seperti seorang siswa menyimak pelajaran di kelas…

Aku selalu menebak apa yang kamu pikirkan, tiap kali aku melihat potretmu di sosial media. Terkadang isi kepalamu itu lebih sulit dari soal matematika, bahkan kadang lebih rumit dari persoalan negara. Melihatmu melalang-buana di sosial media seringkali membuatku merasa asing, padahal aku adalah dirimu sendiri dan kita tidak beda. Namun aku ingin mengerti kamu dan aku ingin memahamimu sepenuhnya.

Jika kurasa keadaan sudah susah, rasanya ingin aku melubangi kepalamu sebesar pintu, lalu masuk kesana, menyimak pikiranmu seperti seorang siswa menyimak pelajaran di kelas. Namun, lebih seringnya aku mengangkat tangan dan mencari jawaban (atau bocoran) dari Tuhan. Karena mau kemana lagi jika bukan kepada Penciptamu aku meminta, aku saja seringkali tidak mengerti…

Bukan berarti aku tidak mengenal kamu. Maksudnya, kita sudah mengatasi lebih banyak persoalan dan kenangan dari yang kita mampu ingat. Contohnya, kamu takut gelap, tapi kamu tidak bisa tidur jika ada cahaya. Kamu benci segala hal yang lambat tetapi kamu juga suka terlambat. Oiya, satu lagi, kamu sebetulnya membenci kucing, tetapi semua orang terdekatmu mencintai kucing dan akhirnya kamu berusaha mencintai apa yang kamu benci… hingga kamu benar-benar jatuh cinta sekarang.

Aku tahu kamu berkorban banyak, bukan sekali ini saja kamu mencintai sesuatu yang sebetulnya kamu benci karena hal itu ada pada oranglain yang kamu cintai. Seperti yang sempat kita bicarakan, bahwa seringnya penerimaan memang membutuhkan pengorbanan. Seperti kamu yang bahkan mencintai dirimu sendiri meskipun sesekali dirimu membencimu.

Isi kepalamu adalah istana megah yang sengaja kamu jauhkan dari banyak orang. Kamu membangun tembok besar dengan banyak pasukan. Hanya didalamnya kamu merasa damai dan tentram. Lalu kamu bekerja dan berproses… kamu bertumbuh dan bertambah, sungguh membanggakan buatku menyaksikannya. Meski kamu juga tertatih juga seringnya. Kemudian, setelah pekerjaanmu selesai, kamu buka gerbang pikiranmu lebar-lebar dan membiarkan segalanya melihat hasil karya pemikiranmu…

Maaf ya kalau aku lancang, diriku sendiri… aku merasa mengenal kamu dengan cukup baik, meski kadang aku dan kamu adalah hal yang asing yang sulit. Itu wajar, semua orang mengalaminya… tapi aku bangga padamu, yang tetap memegang teguh mimpimu meski tidak banyak orang yang mengerti.

Aku hanya ingin bilang, aku juga mencintai kamu sama seperti caramu mencintai banyak hal di semesta ini. Tubuh kita satu dan tidak ada salahnya untuk berkomunikasi. Jangan jauhkan dirimu sendiri dengan tidak mengajaknya bicara… mari saling mengenal, mari saling memahami dan kita harus saling menguatkan tanpa membinasakan…

Salam sayang,

RG

--

--

Author, writer, entrepreneur. Poetry ‘Peluk, Dekap, Rengkuh (2020)’

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store