Mencerna Kehilangan

“The ones that love us never really leave us. You can always find them, in here” — Sirius Black

Adakah yang hingga saat ini masih menonton Harry Potter? Saya masih… saya sangat suka filmnya meskipun saya baru membaca bukunya akhir-akhir ini. Ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil baik dari film maupun bukunya. Pelajaran yang selalu muncul hanya dengan mengubah sudut pandang lain.

Salah satu pelajaran berharga yang dapat saya ambil baik dari film maupun bukunya adalah bagaimana Sang tokoh utama — Harry Potter itu sendiri — mampu mencerna kehilangan demi kehilangan. Karena kalau kita mengenal kisahnya, Harry sudah kehilangan orangtuanya di usia yang sangat kecil. Kemudian, ia harus kehilangan sahabat ayahnya Sirius Black, dan yang paling fatal kehilangan Profesor Dumbledore. Mereka, seperti yang kita tahu adalah sebuah harapan dan tempat Harry menggantungkan hidupnya.

Kita mungkin sempat berpikir, atau setidaknya pemikiran ini sempat hinggap dalam kepala saya;

“Adakah orang seperti Harry itu nyata, jika ia harus bertahan dengan kehilangan yang sedemikian rupa?”

Tanpa kita sadari orang-orang seperti Harry itu nyata… mungkin itu kamu, itu saya, itu kita. Seseorang yang menyandarkan hidup pada orang lain dan tanpa sengaja harus kehilangan orang tersebut. Entah itu orangtua kita, sahabat kita, pasangan kita, atau bahkan hewan peliharaan. Apapun yang ketika mereka ada disamping kita, kita selalu merasa aman dan nyaman, lalu kepergiannya membawa serta kenyamanan dan keamanan tersebut.

Harry Potter hadir sebagai pelajaran tentang bagaimana sebuah kehilangan ternyata sepasang dengan kebangkitan dan semua melalui proses yang tidak sebentar. Selayaknya mencerna makanan, kehilangan butuh proses dari hadirnya, mengunyahnya, menelannya, hingga mencernanya.

Setidaknya ada 5 tahapan seseorang mencerna kehilangan, dan itu dialami baik Harry Potter, maupun kita saat harus berduka…

  1. Denial (penyangkalan)
  2. Anger (marah)
  3. Bargaining (tawar menawar)
  4. Depression (depresi)
  5. Acceptance (menerima)

Hebatnya film tersebut tidak menggambarkan Harry sebagai sosok pahlawan yang memiliki kekuatan luar biasa. Kita dapat melihat proses mencerna kehilangannya dengan sangat baik. Kita dapat melihatnya menyangkal, marah, depresi, hingga akhirnya menerima. Kebangkitannya dibersamai dengan kehadiran oranglain, sahabat-sahabatnya, kerabat, juga keluarganya. Meskipun dalam film Harry sempat bersikeras melakukannya sendirian, namun sekecil apapun bantuan dari oranglain akan lebih cepat memulihkan dan mencerna kehilangan tersebut…

Dimanapun tahapan itu, sedang ada dimanapun kita, apakah kita sedang kehilangan atau mempersiapkannya. Percaya saja waktu akan mengantarkan kita pada sebuah penerimaan sebagai akhirnya. Seperti juga Harry Potter, kita dapat menghabiskan hidup dengan orang-orang tersayang, menerima bantuan yang datang dan tetap membantu meski dalam duka. Karena membantu… juga menyembuhkan.

Semangat yaa!!

-RG-

--

--

Author, writer, entrepreneur. Poetry ‘Peluk, Dekap, Rengkuh (2020)’

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store