Membayangkan Orang Lain Sebagai Taman

Selain jendela, hal yang saya suka dari sebuah rumah adalah tamannya. Entah taman yang terdapat di halaman rumah, di belakang, maupun disamping rumah. Dalam KBBI taman diartikan sebagai ‘kebun yang ditanami dengan bunga-bunga dan sebagainya (tempat bersenang-senang)’. Jika dalam pendapat saya taman adalah sebuah tempat yang hidup atau berusaha dihidupkan oleh pemilik rumah dengan penambahan hal hal tertentu seperti hiasan, tanaman, atau hewan.

Tiap kali saya berjalan kaki atau naik kendaraan dan melewati rumah orang lain, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat tamannya. Apa yang mereka hias disana? apa yang mereka tanam? apakah dirawat atau tidak? Karena taman biasanya adalah sebuah jiwa dari rumah yang dengan mudah bisa dilihat dengan mata telanjang. Sebuah sentuhan yang sengaja diberikan pemilik rumah agar sesuatu yang tidak bernyawa seperti rumah dapat terasa hidup dan bergerak. Taman, bagaimana pun bentuknya akan sedikit banyak mencermin pemiliknya.

Lalu bagaimana hubungannya dengan kita sebagai manusia?

Setiap kali bertemu seseorang, saya berusaha mempersonifikasikan seseorang tersebut sebagai taman. Terlepas bagaimana suku, ras, budaya, agama, dan warna kulit. Terlepas dari cerita yang mereka bawa hari ini, dan apa yang menjadi masa lalunya. Dengan membayangkannya sebagai sebuah taman maka ia indah dengan sendirinya. Ia adalah jiwa yang sengaja dihidupkan raganya.

Dengan begitu, saya akan lebih berhati-hati dalam bertindak maupun bersikap terhadap orang lain.

Ketika kita memberikan kebaikan terhadap orang lain, sekecil tersenyum ramah, mengajak bicara dengan sopan, sampai besarnya membantu kesulitannya maupun memberikan hadiah. Saya mengumpamakan sedang memberikan bunga atau benih untuk memperindah tamannya. Jika ia senang, pasti apa yang saya berikan tersebut akan ia rawat dengan baik. Jika dirawat baik, benih atau bunga yang sudah kita berikan akan semakin meranting dan mengakar kuat di taman jiwanya.

Maka pada dasarnya, kebaikan kita akan memperindah jiwanya.

Begitupun, jika kita berbuat buruk terhadap orang lain. Baik disengaja maupun tidak disengaja. Bayangkan saja kita melempar sampah atau memberi hama, bahkan memberi tanaman beracun yang berbahaya untuk taman jiwanya.

Juga seperti kebaikan, selama pemilik taman merawat keburukan yang kita tanam pada mereka. Selama itulah keburukan kita menjadikan taman yang semestinya baik sempurna, menjadi kurang sedap dipandang. Kita pun, akan merasa bersalah jika kita dapat melihatnya dengan mata telanjang.

Kita tidak mampu membersihkannya karena taman orang lain adalah milik orang lain. Perlu izin dari pemiliknya untuk membantu.

Dengan begitu keburukan kita dapat dimaafkan.

--

--

Author, writer, entrepreneur. Poetry ‘Peluk, Dekap, Rengkuh (2020)’

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store