Lelaki Bernama Ali

Bagi sahabat saya, Ali adalah cerita yang tidak pernah usai, sedangkan bagi saya, Ali adalah cerita yang tidak pernah sampai…

Beberapa waktu lalu sahabat saya menghubungi dan mengirimkan saya sebuah foto bayi laki-laki berhidung mancung dan rupawan.

“Ali.” Katanya.

“Namanya Ali. Kau boleh memanggilnya begitu, atau namanya yang lain.”

“Nama kesukaan kita, kan?” Tambahnya, meski hanya melalui telfon saya dapat mendengar suaranya tersenyum.

Begitu mendengarnya saya pun ikut tersenyum. Nama itu langsung mengingatkan saya pada banyak kenangan, nama yang ketika kami (saya dan sahabat saya) masih sering bertemu dulu, sering dibicarakan karena kami sama-sama menyukainya. Bukan hanya suka, tetapi kami juga mencintainya.

Kami begitu mencintainya sampai-sampai sahabat saya dan saya pernah berjanji, jika kelak kami memiliki anak laki-laki atau perempuan, kami sepakat untuk memberikannya nama Ali, itupun jika ayahnya setuju. Bukan tanpa sebab kami berfikir dan memutuskan begitu. Perjalanan kami masing-masing dengan laki-laki bernama Ali begitu beragam dan menyimpan kenangan. Nama yang kami percaya menjadi salah satu titik yang mempertemukan kami berdua;

Untuk sahabat saya

Ali bagi sahabat saya adalah sebuah cerita yang tidak pernah usai, setidaknya begitulah nama Ali jika disimpulkan dalam satu kalimat menurut sahabat saya. Tiga dari lima mantan kekasihnya bernama Ali. Dan setiap kekasihnya yang bernama Ali tidak pernah menyakitinya, tidak seperti laki-laki lain. Ali bagi sahabat saya adalah jalan pulang yang selalu ia cari.

Mantan kekasihnya yang pertama (sebut saja Ali pertama) adalah lelaki berhati seputih salju, ia menghabiskan banyak waktu untuk membantu oranglain, bahkan membentuk yayasan sendiri untuk membantu orang lain. Tanpa sahabat saya tahu, Ali pertamanya sedang sakit keras dan meninggalkan dunia lebih dulu. Semenjak itu, sahabat saya tidak dapat melupakan Ali, ia terus mencari Ali yang lain.

Namun, sepertinya semesta menyambutnya hangat. Sahabat saya selalu menemukan oranglain bernama Ali yang disebutkannya memiliki kebaikan dan sangat menarik. Tidak tanggung-tanggung sahabat saya mencari Ali kedua, Ali ketiga, saat hubungan mereka tidak berhasil ia berusaha mencari lelaki lain yang bernama sama. Setiap kali bercerita tentang para Ali nya, matanya berpendar seperti halnya orang yang melihat rumah setelah lama berkelana.

Untuk saya

Ali adalah cerita yang tidak pernah sampai, buat saya. Cinta pertama saya juga bernama Ali, namun ia belum pernah saya temui. Ia hanya ada di bayang-bayang ketika Ibu mendongengkan cerita sebelum tidur tentang pemuda perkasa yang kuat dan pandai berperang. Ali bin Abi Thalib, namanya, meski saya belum mengerti cinta namun saya rasa saya memendam suka yang lebih dari hanya suka, saya mencintai Ali.

“Jadilah seperti Fatimah agar bisa bertemu yang seperti Ali.” Ibu pernah bilang begitu, saat saya bilang saya mau seperti Ali kalau besar nanti.

Saat ada pertandingan di televisi, Ayah saya memaku pandangnya sambil sesekali berseru. Pria cukup besar berambut hitam ada disana. Lalu saat ia menang Ayah berseru padaku.

“Sudah kubilang Ali tidak terkalahkan!!” Serunya. Nama pria itu Muhammad Ali, petinju kesukaan Ayah, yang menjadi Ali kedua yang saya cintai. Ketika sekolah dasar, diam-diam saya membeli poster Muhammad Ali dan menempelnya di dalam lemari.

***

Ali ketiga ini hadirnya spesial. Saya setengah sadar dari sebuah pesta dirumah teman saya kala Ali, yang sebelumnya dikenalkan oleh teman saya menghampiri. Ia menarik saya menjauhi teman-teman saya. Lalu, didepan teras rumahnya ia mengajakku bicara, ia menitipkan saya sebuah kitab Al-Quran berwarna hitam berukuran kecil, ia juga membacakan surat pembuka disana. Suaranya sangat merdu meski saya tidak benar-benar sadar saat itu.

Saya termenung, berusaha keras tetap terjaga agar dapat terus mendengarnya bersuara. Ali juga bercerita arti dari dua kata di surat itu, Rahman dan Rahim, yang singkatnya bermakna kasih sayang. Saya menangis tanpa suara, lalu berganti tersedu-sedu, lalu berubah menjadi terisak. Saya merasa pulang tapi tidak ingat sudah kemana selama ini berjalan.

Esok hari dan hari-hari selanjutnya ia terus bercerita tentang makna ayat-ayat itu dan saya mendengarnya dengan rindu. Kitab yang Ali titipkan tidak dimintanya lagi, namun terdekap selalu oleh saya. Tanpa Ali tahu, saya jatuh cinta pada caranya membawa saya pulang ke tempat seharusnya saya berada.

Untuk kami berdua

Ada sebuah pesta di tempat saya bekerja, sahabat saya juga menghadirinya. Saat itu saya berangkat bersama Ali, ia menjemput saya dirumah. Intensitas kami berkomunikasi bahkan bertemu sudah menjadi sesuatu yang spesial, dan saya merasa caranya menatap saya tidak sama seperti pertama kali saya berjumpa Ali. Saya merasa harus bicara tentang perasaan saya pada Ali.

Dalam pesta tersebut, Ali tidak turun dari mobil. Saya bicara dengan sahabat saya di pesta, bahwa ada Ali, bahwa saya mencintainya, dan bahwa saya akan mengungkapkannya pada Ali setelah pesta ini. Kami menikmati pesta hingga usai dan sahabat saya ingin menumpang sampai stasiun terdekat.

Sampai mobil saya melihat Ali, dan Ali melihat kami. Saya mengenalkan sahabat saya pada Ali dan mereka berdua membeku. Mata sahabat saya berpendar seperti menemukan jalan pulang dan saya langsung tahu Ali saya ini adalah kisah cintanya di masa lalu. Ali pun begitu, saya rasa, meski saya sulit menerima bahkan melihat matanya.

Perjalanan menuju stasiun begitu lambat. Saya memecah kebisuan ini dengan bertanya, apakah mereka saling mengenal?, sungguh dunia ini sempit dan berhasil mempertemukan kita bertiga. Namun, mereka tetap membisu, saya melihat mata sahabat saya yang diam-diam mengunci pandang terhadap Ali, matanya kini merah saga, ada genangan kaca di matanya. Sahabat saya turun terburu-buru dan mengucapkan terimakasih.

Ali menepikan mobil dan meminta izin untuk turun sebentar. Ia menghampiri sahabat saya yang sekuat langkah berusaha menggebu namun luluh ketika namanya dipanggil. Saya ingin menukar diri menjadi atap atau tiang didekat mereka atau sandal yang dipakai Ali demi mendengar mereka bicara namun saya tidak bisa.

Ali kembali bersama saya, dan saya memberanikan diri menatap matanya. Matanya berpendar, seperti seseorang yang merantau jauh dan kini kembali pulang. Mata penuh kasih sayang dan cinta yang saya tidak pernah tahu ada pada dirinya ketika ia menatap saya. Namun saya tahu, pendar itu bukan milik saya.

Kini…

Sahabat saya mengirimi saya pesan setelah itu, ia meminta maaf bahwa ada perasaan yang belum selesai antara ia dan Ali dan sahabat saya mengikhlaskan Ali. Saya membalas, Ali tidak pernah menatap saya dengan cinta seperti saat bertemu sahabat saya saat itu, saya pun mengikhlaskan Ali untuk sahabat saya. Lalu Ali… kami samasekali tidak lagi mengetahui kabarnya.

Sahabat saya menikah dengan lelaki yang tidak bernama Ali tetapi menamai anaknya Ali. Tidak ada yang pernah usai antara cinta ibu dan anak, katanya. Lalu saya….

Sepertinya doa Ibu saya terkabulkan, menjadi seperti Fatimah yang mencintai diam-diam. Barangkali, dengan begitu dapat bertemu seseorang seperti Ali dikemudian hari, semoga saja…

--

--

Author, writer, entrepreneur. Poetry ‘Peluk, Dekap, Rengkuh (2020)’

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store