Langit Penyimpan Nama

Maka alih-alih mencarimu di bumi, aku mencari namamu di langit… Sebab, sebagai pengemban rahasia, langit yang lebih tahu kamu siapa…

Aku tidak takut pada langit, pun aku tidak membencinya. Bagiku langit selalu memiliki cerita, juga cara-cara menyimpan berbagai rahasia. Kita selalu melihat langit berupa sesuatu lapang dan kelompang, yang terkadang saat siang berwarna kelabu, terkadang berwarna putih dengan semburat biru. Dan kita selalu tahu tak ada bintang saat siang, pun tak ada mentari saat malam. Padahal, mereka selalu ada disana dan tak kemana-mana, namun langit dapat merahasiakannya.

Daripada langit, aku lebih takut pada Bumi. Benar, Bumi yang sama kita pijak. Tempat manusia datang silih berganti namun kita kerap merasa sepi sendiri. Tempat kita disibukkan dengan berbagai aktivitas sampai-sampai kadang membuat kita lupa diri. Tempat rahasia diikuti mata demi mata yang mengikuti kemana saja. Kadang kupikir, sulit menemukan tempat sembunyi di bumi, kecuali didalam hati pada diri sendiri.

Namun langit adalah kebalikannya. Kekosongannya memberiku gambaran bagaimana ruang penuh rahasia dapat bersemayam. Sejak kecil, aku seringkali berdoa dengan sesekali mentatap langit, entah langit sungguhan atau sekedar langit-langit kamar. Buatku, tanya, harapan, juga rahasia yang kerap kita simpan itu begitu ringan jika dibisikan dalam doa. Sangat ringan hingga rasanya mereka mampu mengangkasa dan langit sebagai wadahnya.

Sejak kecil dulu, sebelum ibu dan ayah mengajarkan cara berdoa. Aku telah tahu bahwa langit adalah penyimpan rahasia. Bahwa langit yang lebih luas, angkasa yang lebih tanpa batas tidak keberatan untuk dititipkan segalanya. Disanalah aku mencari hal-hal yang jawabnya belum ada di bumi, disana pula aku bertanya segala sesuatu yang belum menghampiri.

Barangkali di langit sebelah mana kamu pun melakukan hal yang sama. Kamu membisikan beberapa rahasia untuk disimpan langit, kamu tanyakan harapan-harapanmu agar langit menurunkan jawaban, kamu menyempatkan menengadahkan kepalamu dan kamu percaya entah bagaimana caranya langit akan segera menurunkan jawabannya.

Maka alih-alih mencarimu di bumi, aku mencari namamu di langit… Sebab, sebagai pengemban rahasia, langit yang lebih tahu kamu siapa...

Barangkali segala yang belum sempat berlangsung diantara kita belum saling menemukan di langit sana. Seringkali, aku membayangkan kita sedang bermain petak umpet skala semesta. Mungkin saja kamu sudah bertemu denganku, atau sudah mengenal siapa aku namun kita belum memiliki arti. Hidup ini memang terkadang berupa teka-teki.

Maka kulangitkan kamu dalam bisik-bisik doa, kucari namamu di setiap langit-langit, sesering mungkin. Hingga mendung membendung kelabu, menurunkan hujan di bahumu. Barangkali diantaranya ada doaku.

Mungkin itu sebabnya dalam agamaku, hujan adalah saat disarankan untuk berdoa. Barangkali bisik doa, dengan jawaban yang diturunkan langit dapat berjumpa dan saling mengaminkan. Dan sebaik-baiknya kasih sayang adalah yang disimpan dalam doa.

Seperti Eyang Sapardi bilang;

“Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu…”

--

--

Author, writer, entrepreneur. Poetry ‘Peluk, Dekap, Rengkuh (2020)’

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store